Burung Gagak
February 4, 2007 by keeghi
(intisari februari/2007)
Ferbando, sebut saja begitu, boleh dibilang sudah jadi orang. Di usianya yang mendekati kepala lima ia duduk sebagai vice precident sebuah perusahaan multinasional ternama yang bermarkas di kota besar. Di rumahnya yang megah di kawasan Elite, Fernandon hidup bahagia bersama istri dan ketiga anaknya.
Suatu kali Fernando merasa sangat rindu kepada ibundanya yang tinggal sendirian di kampung halaman, hanya ditemani seorang pembantu rumah tangga. Ketika rasa kangen sudah tidak tertahankan, ia pun pulang ke kampung untuk menemui sang ibu tercinta.
Melihat anak kesayangannya muncul di hadapannya, sang ibu tak bisa menahan haru. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Keduanya lalu saling menumpahkan rasa rindu. Merka duduk di teras rumah sambil menikmati penganan dan mnum teh. Ketima mereka sedang asyik mengobrol ke sana kemari, terdengarlah suara beroak-koak seeokor burung gagak yang btertengger di dahan pohon depan rumah.
Sang ibu pun bertanya, "Apa itu Nak?"
"Burung gagak!" kata Fernando.
Burung itu masih terus berkoak.
"Apa itu, Nak?" ibunya bertanya lagi.
"Burung gagak, Bu!!" jawab Fernando dengan volume suqara lebih keras.
"Apa itu Nak?" kembali ibunya bertanya.
"Buuu, itu burung gagak!!!" kata Fernando dengan nada setengah membentak.
Burung itu berpindah dahan tempat berpijak dan masih saja berkoak.
"Apa itu Nak?" tanya ibunya tetap dengan nada tenang seperti sebelumnya.
"Apa ibu sudah tuli? Sudah berapa kali aku bilang, itu burung gagak!!!" bentak Fernando dengan nada marah.
Lalu ibunya masuk ke dalam rumah. Sebentar kemudian sang ibu keluar lagi menemui Fernando sambil membawa sebuah buku harian yang sudah agak kumal. Dibukanya buku harian itu, lalu disodorkannya kepada Fernando untuk dibaca.
Bunyi catatan itu begini, "Ketika Fernando berusia empat tahun, aku mengajaknya berjalan-jalan. Lalu terdengar suara burung gagak. Ia bertanya kepadaku, ‘Apa itu Bu?’, dan kujawab, ‘Burung gagak, Nak!" Ia mengajukan pertanyaan yang sama sebanyak 40 kali, dan kujawan dengan sabar sebanyak 40 kali juga."